WITHOUT A SINGLE WORD
Hidup ini emang kejam kalau seandainya aku adalah satu-satunya makhluk hidup di Bumi mungkin akan lebih menyenangkan berteman dengan para binatang yang ga mungkin menyakiti hatiku, berbeda dengan berteman dengan manusia dimana aku mesti menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialku. Bukan maksud ingin berkeluh kesah tapi ini berdasarkan pengalaman yang udah-udah kualami. Saat-saat dimana kantong amarahku tidak dapat dikendalikan lagi, dan luapan emosi telah mencapai batas max. Bertahun-tahun aku berteman dengan seseorang bukan lagi takaran dimana keroyalitasan dan kesetiaan diukur melainkan "siapa dia?" dan "apa yang membuat dia berteman denganku ?".
Meski aku termasuk kalangan sosiable dan senang bergaul namun dalam setiap lingkungan sosial di sekitarku pasti aku menemukan Si Tipe-tipe Benalu yang bisanya cuman numpang hidup dan ngambil semua keuntungan yang bisa dia dapat sampai si Empunya mati kemudian mencari tempat baru untuk numpang hidup lagi. Lebih jelasnya si Benalu ini benar-benar ada dan itu lah yang terjadi padaku yang sudah di tempelin si Benalu ini sejak lama. Meskipun aku sudah mencoba buat jarak dengannya tetap saja aku tidak dapat memungkiri bahwa yang menjadi masalah adalah diriku sendiri yang ga punya daya buat menyingkirkan benalu ini.
Contoh yang baru saja kualami adalah saat dimana aku tidak dapat menyangka bahwa Dia "Benalu" yang sudah lama kukenal berani-beraninya menusukku dari belakang. Emang aku bukan orang yang peduli dengan orang lain tapi juga bukan berarti aku cuek dengan setiap permasalahan yang ada. Pada saat aku tidak dapat mengabulkan permintaan dia dan menyarankan agar dia melakukan untuk menggantikan diriku dahulu, dia meng-iyakan permohonanku tersebut. Aku sangat berterimakasih dengannya yang telah membantuku dan berjanji untuk ikut membantu dia mengerjakan tugas yang diberikan superior kami karena memang tugas itu diperuntukkan buatku dan dirinya. Ternyata ada rencana lain dibelakang itu semua. Tugas yang sudah seharusnya telah sampai tanganku dia kerjakan sendiri tanpa ada pemberitahuan padaku saat itu. Saat dimana dia tidak sanggup lagi mengerjakan semua tugas yang memang seharusnya diperuntukkan dikerjakan untuk dua orang namun, dengan pemikiran pendek ingin dianggap royal dan patuh oleh superior dia malah melimpahkan tugas tersebut bukan kepada orang yang seharusnya adalah aku melainkan patner lain yang notabenenya bukan wilayah tuganya untuk menerima tugas tersebut. Tentu saat tugas tersebut dikerjakan aku tidak mengetahuinya sama sekali sampai datanglah kabar angin bahwa ternyata aku tidak mematuhi perintah dan telah berdusta. Tentu aku yang tidak tahu sama sekali apa yang telah kuperbuat merasa binggung dan penasaran sampai diadakan pertemuan khusus tersebut, dan terkuaklah semuanya yang telah dia sembunyikan dariku demi mendapatkan "nama baik" dihadapan superior namun, malah membuat nama Baikku hilang dihadapan superior.
Murka dan kemarahan tentu kukendalikan pada saat pertemuan tersebut kata demi kata ku perhatikan setiap penuturan dari patner sekaligus rekan ku kuperhatikan dengan sesama. Kucengkram dengan kuat kedua tanganku agar murka tersebut tidak keluar dan mengendalikan akal sehatku. Penuturan yang kudenggar dan kenyataan yang telah ku alami benar-benar berbeda. Aku mampu untuk memojokkannya saat itu namun, hal seperti itu tidak ku lakukan demi menjaga nama baik dia di hadapan patner yang lain. Aku pasrah pada saat itu, hilang sudah nama baikku dihadapan semuanya. Tentu dengan kejadian seperti ini aku mulai waspada terhadap dia, malah kalau bisa aku ingin menghindar selamanya dari dia yang telah mengancurkan reputasiku baik di hadapan superior maupun patner-patner ku yang lain.
Enough suffering like this, I don't wanna feel pain and sour again.
No comments:
Post a Comment